soficita

Tampilkan postingan dengan label jurnal soficita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnal soficita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Aku : Orang Jawa yang Tak Tahu Jawa

Miris sekali dengan judulnya, orang Jawa yang tak tahu Jawa.

Beberapa waktu lalu, aku sempet ngobrol ngalor ngidul bareng sahabat Gin tentang pendidikan. Sebetulnya ini tema obrolan yang nggak ada habisnya. Carut marutnya pendidikan, dibahas, diurai, dipikirkan ataupun mau diapain juga begitu-begitu saja. Bahkan banyak banget hal yang sebetulnya ingin kutuliskan, nyatanya nggak jadi-jadi juga.

Suatu kali si mamang ini bercerita tentang hal yang membuatnya tertarik untuk dipelajari lebih mendalam. Katanya, dia banyak mengamati orang-orang tua. Kecerdasan orang jaman dulu dengan kini sangat jauh berbeda. Menurutnya lagi, dia sering terpesona dengan kemampuan orang-orang tua dalam melakukan pekerjaan, menganalisis, memperhitungkan sesuatu dan sebagainya. Padahal orang-orang tua tersebut tidak sekolah tinggi-tinggi. Menghitung kebutuhan bahan baku bangunan, ukuran dan biaya pembuatan rumah misalnya, tak perlu banyak waktu, hanya segini, segini, dan segini, ketemu totalnya. Tanpa corat caret, tanpa kalkulator, pokoknya tanpa alat bantu apapun dengan mudah diselesaikan. Padahal hanya lulusan SR (Sekolah Rakyat).

Memang, pengalaman pasti sangat berpengaruh. Tapi, bisa jadi memang proses pembelajaran jaman dulu juga memberikan pengaruh besar. Jaman dahulu, menulis di atas sabak dan setelah selesai pelajaran sabak dibersihkan. Bagaimana murid tetap bisa mengerti materi yang telah diajarkan. Coba tanyakan sama simbah-simbah jaman dulu bagaimana menghitung luas atau volume tabung? aku yakin mereka masih mengingatnya. Dan hal inilah yang menarik untuk dipelajari lebih mendalam. Kumpulkan saja cerita-cerita para orang tua tentang SR dan mungkin dapat banyak pelajaran.


Sanrusdi.

Aku memanggilnya Mbah Bau Rusdi. Beliau saat ini adalah orang tersepuh atau paling tua di dusun kami. Saat ini berumur 84 Tahun. Dipanggil mbah bau karena semasa mudanya menjabat sebagai kepala dusun (bau). Yang menarik dari simbah ini menurutku karena orangnya rame, seru, lucu. Demen mendongeng, meskipun cerita-ceritanya agak serem tapi selalu bikin penasaran. Maklum orang jaman dulu, banyak tirakatnya, banyak ilmunya dan banyak jimatnya. Dari cerita klenik, jaman perjuangan, jaman pki dan cerita-cerita tempat angker di dusun kami tentunya.

Saat pulang ke Cilacap kemarin, sempat ketemu di warung dan ngobrol-ngobrol dengan mbah Rusdi. Kondisi fisiknya memang sudah tak sekuat dulu tapi kalau soal ngobrol masih bersemangat dan antusias. Nah, inilah kesempatan untuk memeperoleh cerita sekolah jaman SR dulu.

Jaman SR dulu, tidak ada bapak guru, kita semua memanggil guru dengan sebutan ‘Ndoro’. Guru itu para priyayi. Pakaiannya, pakaian jawa dengan tapih kain jarik dengan wiron tatan. Lalu hal yang dipelajari selama tiga tahun di SR, mbah Rusdi cerita begini, kelas 1 dan 2 tidak pernah diajarkan menulis huruf latin (alphabet) melainkan menulis dengan aksara jawa dan belajar berhitung. Di kelas 3 baru diajarkan menulis dengan huruf latin.

Mbah Rusdi juga bercerita bagaimana anak-anak bersemangat di pagi hari memberihkan sabak dengan kain yang dibasahi. Bersih, dan siap untuk memperoleh pelajaran baru setiap harinya. Waow, lalu bagaimana anak-anak mengerti tentang pembelajaran jika tak ada lagi bahan atau banyaknya catatan. Mbah Rusdi hanya bilang, karena kita memahami apa yang ndoro ajarkan.

Mbah Rusdi Menulis Aksara Jawa
Mbah Rusdi Menulis Aksara Jawa

Hasil Tulisan Mbah Rusdi
Hasil Tulisan Mbah Rusdi

Terpesona aku sama tulisan rapi yang tak bisa kubaca itu. Miris. Aku, asli Jawa tak mengenal aksara Jawa. Asli Jawa belepotan ngomong bahasa Jawa kromo. Bukan hanya aku, masih banyak bahkan sangat banyak generasi muda Jawa yang tak mengerti Jawa. Hiyaaaaaaaaayyyyy… Olala, lalu bagaimana generasi Jawa mendatang?

cilacap | 8 mei 2012

Kamis, 28 Maret 2013

Investasi Pendidikan

Tulisan ini di publish di blog pribadi admin soficita setahun lalu, karena request dari kawan tentang bagaimana pandangan saya terhadap investasi pendidikan maka tulisan ini di publish ulang. Dapat dilihat disini.

Begini, tulisan ini saya buat setelah mencuri dengar dengan tidak sengaja antara teman saya dengan temannya. Ah reweeehhh amat ya. Begini kisahnya.

Dua orang, yang satu itu sepertinya orangnya sangat antusias. Em… tepatnya apa ya? kok antusias sih. Kita sebut aja dia si A. Gini dia itu terinspirasi para motivator deh, semangat kerja, otaknya selalu penuh dengan planning-planning masa depan, bergairah, pokoknya orientasi pada kesuksesan. Keren juga kalau semangatnya selalu terjaga. Dan yang satu lagi yang kita sebut si B, dia pendengar yang baik dan selalu terkagum-kagum dengan bualan cerita planning masa depan dari si A yang betul-betul sempurna.

Ada topik yang buat aku jadi termenung dan berfikir lama. Jiahahaha, gaya sok mikir. Soalnya seru, tentang investasi pendidikan masa depan anak-anak. Begini ujarnya dengan semangat berapi-api “kalau sekarang minimal mesti menabung 2,5 juta perbulan untuk investasi pendidikan anak, jadi dia akan aman sampai saat di universitas nanti”

Pendidikan anak aman sampai universitas (Gambar milik Google)
(Gambar milik Google)

Gleeeeeeeeeek. Dueeeeerrrrr. Kaget habis itu ngikik-ngikik hihihihi.

Secara ketemu makanan tiga kali sehari dengan menu yang keren aja sudah syukur alhamdulillah yaaaa… masih sering ngangkring atau nongkrong di burjo dari pada makan ala cafe dan resto mahal (ketahuan, kalau belom jadi orang kaya raya yang bisa beli apa aja).

Menabung minimal 2,5 juta sebulan. Hm… untuk orang seperti aku, ya beratlah mesti korupsi dulu, tapi maaf saya bukan koruptor dan tak tertarik jadi koruptor. Semoga konsisten, Amin.

Aku dan sodara-sodaraku itu sarjana. Orang tuaku, sepengetahuanku baru punya rekening di Bank setelah Bapak pensiun PNS, untuk memudahkan ambil gaji pensiun. Maklum PNS golongan cilik, yang ada tiap bulan gaji minus untuk berbagai macam tagihan ini dan itu. Tapi kesungguhan orang tua dalam memprioritaskan pendidikan anak inilah mungkin yang membuat semua yang dalam hitungan itu tidak mungkin menjadi mungkin. Allah memang sayang banget sama kita kok.

Aku coba analisis, huahahaha! sok banget yaaaa…!

Perlukah investasi pendidikan minimal 2,5 juta untuk anak-anak kita di masa depan? Bagi yang punya duit ya tentu saja sangat boleh. Itu tanda sayang juga pada anak-anak dan bukti tanggung jawab kita untuk mendidik anak dengan baik. Iya, kan?

Lalu bagi yang tidak punya penghasilan besar, bagaimana? Tak usah takut. Optimis. Selama kita punya tekad kuat dan konsisten untuk pendidikan anak kita kelak, kupikir semua akan beres.

Investasi pendidikan yang paling baik adalah dengan cara memperkaya pengetahuan kita. Selalu rajin belajar. Persiapkan anak-anak kita menjadi pribadi yang berkarakter, kritis, kreatif dan mampu bersaing. Insya Allah kalau cuma untuk aman masuk universitas terkabul deh… Karena menurutku inti dari pendidikan adalah menghasilkan output yang aku sebut tadi. Bukan cuma sekolah aja yang bisa mencetaknya. Banyak sekolah alternatif yang bahkan lebih keren. So, mari kita belajar, belajar dan terus belajar.

sophy
Jogja | 1 Maret 2012

Kamis, 14 Maret 2013

Kunjungan Peternakan Kambing (2)

Sebetulnya kegiatan ini sudah agak lama, namun karena adminnya sok sibuk jadi baru sempat di upload malam ini.

Ini adalah kunjungan adik-adik kecil soficita yang ke-2. Alhamdulillah, di desa kami ada peternakan kambing etawa. Jadi anak-anak bisa bermain sekaligus belajar disana. Sungguh menyenangkan lho! Kita bagi foto-fotonya saja yaaa...

Horrray!



Kambingnya Jinak ^^
Tanduknya besar
Bau Kambing hehe


Turun dari kandang
Sambil istirahat kita bermain origami

Jadilah burung kertas ^^

Dorrr!
Bawa bekal makan siang juga lho! alhamdulillah nikmat ^^



Petualangan yang menyenangkan. Adik-adik semua bergembira. Dan semua menunggu petualangan selanjutnya, tapi kemana lagi ya? Ada ide? Atau kalau mau gabung boleh lho...


LS | taman soficita

Minggu, 14 Oktober 2012

Bermain Itu Belajar : Puzzle

Ada yang cekatan, tap..tap..tap selesai! Mereka berfikir praktis.
Ada yang pelan, di coba salah... dicoba belum pas... dan dicoba lagi sampai berhasil!
Ada yang heboh, ini gimana? terus yang mana lagi? habis ini terus yang mana lagi? Harus ekstra sabar menghadapi anak tipe begini.
Ada juga yang frustasi. Marah-marah. Dan akhirnya jadi berantem dengan yang lain. Perlu banyak bimbingan dan perhatian.

Pandai dalam hal pengetahuan tapi tidak cerdas secara emosi, itu juga belum dianggap keren. 
 
Bermain Puzzle
 
 
LS
cilacap | oktober 2012

Senin, 24 September 2012

Merangkai Cerita (Sebuah Harapan)

Merangkai cerita bersama adik-adik Taman Soficita yang semakin hari semakin kreatif dan menyenangkan
Senantiasa membuat kami tentor selalu merindukan suasana ramainya,
membuat kami rindu akan celoteh-celoteh kalian yang polos,
rindu akan keceriaan-keceriaan yang kalian hadirkan,
rindu akan simpul senyum kalian,
rindu akan setiap detik waktu belajar yang tak pernah sepi akan gerak gerik kalian. 

Semoga generasi-generasi setelah kalian pun akan selalu hadir menemani kami dan selalu memberi nuansa baru untuk Taman Soficita dan menjadi pelengkap setiap catatan-catatan harian kami dan kalian pun akan menjadi generasi penerus yang membanggakan nantinya

aamiin
si cantik, dek Safira

Dek Ara dan Dek Fafa


Randy, Agnes, Aini, Nisa dan Disya

Nana, Alya, Dinda
Luqman, Sya'ban, Daffa, Dika, Wahid, Efri, Ahmad

 Fifi Ayoen
cilacap | september 2012





Sabtu, 25 Agustus 2012

Alam Kita

suatu kali aku pernah bercerita pada anak-anak
tentang harmonisasi alam yang sangat indah
hubungan yang sangat mesra dan tergantung satu sama lain
bahwasanya kita saling bergantung dengan makhluk lainnya

kita butuh makan, alam menyediakannya
kita butuh minum, alam menyediakannya
kita butuh angin, alam menyediakannya
kita butuh bangun rumah, alam menyediakannya
kita butuh udara, alam menyediakannya
kita butuh apapun juga, alam menyediakannya

mereka bertanya,
lalu makhluk lain di alam ini apakah memerlukan kita?
ya, tentu saja. mereka juga harus kita hormati,
penuhi keperluannya

coba kalian bayangkan,
di suatu padang rumput yang luas
ada juga pohon-pohon rindang
langit biru cerah dengan hiasan awan seperti bulu-bulu domba
ada beberapa kambing ternak yang sedang asyik merumput
lalu sang gembala duduk di bawah pohon menikmati nyanyian suara burung berkicau
angin pun tak segan menyapa
sinar mentari juga tak terasa teriknya
disanalah, ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan
rumput membutuhkan kambing-kambing untuk memberikan karbondioksida sisa pernafasan
agar mereka dapat berfotosintesis menghasilkan rumput sehat dan oksigen
kambing membutuhkan rumput sebagai makanan
dan kambing juga mengambil oksigen untuk bernafas
begitupun penggembala, burung, kupu-kupu, lebah dan capung dengan tumbuhan saling membutuhkan
indah sekali alam ini, bukankah ini hadiah dari Tuhan yang tak terkira…

wajah-wajah kecil polos yang tadi berseri berubah murung,
orang-orang dewasa telah merebutnya
monster-monster bermunculan berbentuk kotak bertingkat-tingkat dan bercerobong asap
pohon-pohon di tumbangkan tanpa memikirkan akibatnya
hewan-hewan di buru, diperjualbelikan sampai habis di habitatnya
mineral-mineral dari dalam tanah digaruk dan dan disedot sampai habis

lalu kini,
Matahari marah membakar kita semua dengan teriknya
pohon-pohon tak lagi mampu memberikan oksigen yang berlimpah untuk kita
angin pun jarang menyapa, kadang datang dengan tiba-tiba dengan marah yang membuncah
menerjang dan merusak apa saja yang dilewatinya
air bersih pun tak tahu mesti dicari kemana
sawah-sawah kering, sungai-sungai kering, sumurpun ikut mengering
seperti angin, kadang air pun datang seperti bah menghancurkan apa saja yang dilewatinya

saat bencana datang
orang dewasa selalu bilang
bahwa alam telah menua

Apakah orang dewasa lupa,
alam tidak menua kalau kita mampu menjaganya
bukankah orang dewasa juga yang mengajarkan
air, tanah, tumbuhan, dan beberapa lainnya termasuk sumber-sumber yang dapat diperbaharui

inikah yang orang dewasa mampu wariskan pada kita?

akupun sedikit bingung menjawabnya
tenanglah, asal kita janji untuk mau dan mampu dan terus berusaha
kita akan mampu mengembalikan alam seperti dongeng kita


Lina Sophy
14 April 2012

Bermain itu Belajar

Ade Fira & Ade Hilda


(Fira 5 tahun, Hilda -4 Tahun)

Ade Fira bilang kalau besar nanti pengen jadi ibu guru. Hari ini mereka bermain kartu alfabet. Fira jadi gurunya.

F : Ini apa de?
H : Geleng-geleng.
F : Ikutin ya, ini A, untuk Apel
H : A, untuk Apel


Jadilah apa yang kalian mau. ^^

#soficita
Cilacap, Agustus 2012

Senin, 19 Maret 2012

Korupsi di Mata Anak-Anak

Biasanya, sebelum mulai belajar anak-anak #soficita akan bermain sesuka hati. Lalu, ketika semua sudah tenang dan bisa duduk manis, kita akan mulai berdiskusi. Dari cerita pengalaman berebut belut di sawah. Dengan sistem saling songkol (baca = sebelum belut masuk wadah masing-masing biarpun sudah di tangan masih bisa direbut), baju penuh lumpur. Oh, bukan hanya baju tapi dari ujung rambut. Menyenangkan. Atau pengalaman waktu sunat. Pengalaman malasnya mandi pagi, dan sebagainya.

Kemarin sore Nafis, Adit, Manda, Bagus, Devi, Marsya, dan Delpi duduk nyaman, ada yang bergelayutan di pundak. Tiduran bebas dilantai. Sibuk kipas-kipas karena udara yang panas. Kita memulai diskusi. Ada yang membuka dengan pertanyaan tentang apa itu korupsi? Tak perlu ku jawab. Dilemparkan saja pertanyaan itu pada mereka.
Jawaban beragam.
“Berarti dosa banget ya mbak koruptor itu?”
“Koruptor itu orang yang serakah”
“Jahat”
“Masa nggak di tangkap sama pak polisi”
“Kan kalau di TV yang korupsi para pejabat tinggi”
“Masa pak Presiden nggak berani?”
“Yang di korupsi itu uang untuk rakyat?”
“Untuk orang miskin? ya nanti tambah susah? kalau nggak bisa makan gimana?”
Pembahasan melebar sampai dengan hutan gundul karena penebangan liar.
“Yang nebang katanya orang-orang yang udah kaya ya mbak?”
“Ihh… pada jahat banget ya orang Indonesia”
“Mbak, bisa nggak nanti lama-lama Indonesia di jual juga sama koruptor?”
“Hah… kalau Indonesia di jual, nanti aku tinggal dimana?”
“Berarti kalau Indonesia di jual rakyatnya jadi pembantu semua ya mbak?”
Oke! Stop… Kalau sudah begini, mencoba dengan sungguh hati, menjelaskan apa dan bagaimana koruptor. Dan bagaimana semestinya menjadi anak-anak yang baik. Hipnotis mereka dengan cerita tokoh-tokoh yang hebat. Keyakinanku, bahwa anak-anak akan belajar dari tingkah laku orang dewasa. Mari, selalu belajar menjadi contoh anak-anak untuk kemajuan kita bersama.


Cilacap, Des 2011
Sophy

Kamis, 26 Januari 2012

Centil ^^

^^   



Foto-foto centil di taman soficita...

Taman Baca Soficita

Ini rajin membaca betulan, apa di depan kameraaaaa??? hayooooo...

Kami suka membacaaaa.. Harus!!!!!!!

soficita
26 Januari 2012

Kamis, 22 Desember 2011

[Mother's Day] Ibu, Dengarkanlah Curhatku...

Ibu, kau memang berjasa bagiku
tapi mengapa engkau lukai hatiku ini
kenapa kalau aku selalu dimarahi olehmu
karena masalah kecil saja

Ibu, kau memang perkasa untuk melahirkanku
dan untuk merawatku
aku ingin ibu yang baik dan penyabar
kalau aku sedih, kau bisa menemaniku
tetapi ibuku sekarang ini jahat
hampir setiap hari aku dimarahi
rasa sakit ini seperti aku adalah anak tiri
yang ditinggal oleh ayahnya

Ibu, aku ingin mengungkapkan rasa
tetapi aku takut
aku takut karena rasa takutku ini yang dalam
rasa takut ini bermula karena aku sering dimarahi olehmu

aku sekarang ini
memang sering mengurung diri di kamar
karena aku putus asa
terus menerus dimarahi olehmu

ibu, aku ingin kau menjadi ibu yang baik
dan penyabar untuk anak-anaknya
suatu hari nanti aku juga ingin menjadi ibu yang baik
agar anaknya nanti bisa menilai sayang ibunya sendiri

Ibu, aku ingin seperti pada gambar ini

aku ingin bahagia dengan ibuku
Aku ingin menjadi teman untuk anakku nanti
juga agar anakku tidak nakal pada teman yang disekolahnya

by Restu Amanda

Rabu, 21 Desember 2011

[Mother's Day] Surat Untuk Ibu

Ibu...
Ibu selalu membuatku semangat
larangan ibu adalah kebaikanku
walau kita jauh, tapi Ibu selalu dihatiku
aku sungguh rindu pada ibu

Ibu, aku ingin sekali memelukmu
jika aku memelukmu,
hatiku terasa nyaman dan tenang

dan saat kau pergi mencari nafkah
jauh di negri orang
hatiku sedih sekali rasanya
rasanya seperti kehilangan cahaya kehidupan
begitu kau hilang dari pandangan mataku,
hatiku terasa berat melepasmu
ingin sekali rasanya selalu bersamamu

pengobananmu sangatlah besar
walaupun ayah sudah tidak memperdulikan kita
tapi kau tidak putus asa
kau selalu sabar menghadapi semua cobaan

ibu kau sangat hebat
kelak aku ingin menjadi seorang ibu
yang seperti Ibuku ini

ilustrasi: (Devi dan Ibu) oleh Devi

Anakmu,
Devi Ananda Putri

Memancing Bersama Teman

Pada tanggal 15 Desember 2011 aku dengan teman-teman memancing di sungai.Sebelum kami berangkat,kami menunggu teman yang lain.Setelah teman yang lain datang semua,kami langsung berangkat dari rumah mba Lina.Sungainya tidak jauh dari rumah mba Lina.sesampainya disana ternyata airnya sedikit,kami semua sepakat untuk berpindah tempat.Akhirnya kami sepakat untuk memancing di belakang rumah Pak Ngawam.Airnya sih sedikit banyakuntuk kami memancing.

Lalu kami langsung mengambil tempat sendiri-sendiri,aku dan Devi mengambil tempat bersama.Lama kami menunggu untuk mendapatkan ikan,ternyata Adit duluan yang dapat.Aku dan Devi berlomba untuk mendapatkan ikan tapi,Devi duluan yang dapat ikannya.Aku pindah tempat agar pancinganku dimakan oleh ikan.Aku menunggu lama sekali untuk mendapatkan ikan.

Teman yang lain bermain dan bersendagurau tapi aju tetap diam saja,setelah cukup lama menunggu akhirnya kailku dimakan oleh ikan.Aku senang sekali,ternyata aku bisa mendapatkan ikan walaupun kecil.Aku lalu bertanya kepada mba Lina ''Mba,sekarang jam berapa?''kataku.Lalu mba Lina menjawab''Jam empat kurang sepuluh menit.Jadi,kita memancingya kurang sepuluh menit lagi ea...". Sepuluh menit berlalu aku,Devi dan Resza karena sebentar lagi mau mengaji.Aku dan Devi izin untuk pulang.  

Kreatif By:Restu Amanda

Minggu, 18 Desember 2011

[soficita] Memancing Ikan Kecil

Surat Rahasia Devi

Memancing Ikan Kecil
Pada hari kamis tanggal 15 Desember 2011, aku dan kawan-kawanku dan juga mba Lina pergi memancing. Awalnya kami mau memancing di sungai Ciwuntu tapi karena susah dan ada ularnya, kami tidak jadi mancing di sungai itu.  Kami akhirnya mancing di sungai kecil dan sempit tapi panjang yang ada di Ciledug. Akhirnya kami sepakat memancing di sungai kecil yang berada di Ciledug.

Sesampainya di sungai, semua teman mancing. Tapi karena aku tidak membawa pancingan aku hanya melihat dan memasangkan umpan. Yang dapat ikan pertama adalah Adit. Aku ikut senang deh karena temanku dapat ikan. Aku sebenarnya ingin sekali memancing. Tapi, aku nggak bawa alat yang buat mancing. Akhirnya aku dipinjami pancingan oleh mba Lina. Aku pun mulai mancing.

Sudah lama aku menunggu hasil mancing ku pertama. Tapi ikan tak kunjung datang. Dan aku coba lagi. Aku berdoa dalam hati semoga dapat ikan. Dan ternyata doaku dikabulkan Allah. Aku dapat ikan. Walaupun ikannya kecil, tapi aku sangat senang. Dan aku mencoba mancing lagi. Aku berharap bisa dapat ikan lagi.

Sudah lama aku menunggu ikan datang, tapi setiap aku mengangkat pancingan ternyata tidak ada ikannya. Sampai waktu habis. Karena sudah lama aku mancing dengan pancingan mba Lina. Mba Lina pun juga ingin memancing, jadi aku kembalikan pancingannya.

Tidak terasa aku sudah lama memancing. Sebenarnya aku belum bosan dan masih belum puas tapi aku harus pulang. Dan aku pun pulang dengan gembira. Walaupun aku hampir terjatuh ke air, bukan karena aku melamun tapi karena licin aku hampir jatuh ke air.

ikannya kecil kan?

Nah, kawan itu ceritaku.
Apa cerita kalian...??
Devi Ananda P.

Sabtu, 17 Desember 2011

[soficita] Surat Rahasia!

Membunuh waktu yang paling menyenangkan adalah dengan memancing.

Anak-anak kelar UAS (Ujian Akhir Semester), saatnya bersenang-senang setelah semingguan bosan. Isinya soal-soal saja. Alhamdulillah khusus yang kelas kecil semua juara. Nafis, Adit, Marsya dan Nisa semua jempol. Meskipun Nisa sementara libur dari kegiatan #soficita. 

Libur kenaikan kelas Juli kemarin, anak-anak jalan ke peternakan kambing Etawa. Semua suka ,apalagi saat di atas bukit. Makan bersama, menggambar dan melihat pemandangan indah.Menyenangkan.

Semua minta jalan-jalan. Ke gunung Tugel? ah... kejauhan dan beresiko, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Ya sudah ke curug Mandala? itu juga kejauhan. Nanti kalau capek ngayuh sepeda bagaimana? (Mba Lina banyak alasan!). Dan anak-anak kecewa.

Musim apa sekarang? Yess... musim penghujan, sungai-sungai yang kemarin mengering mulai dialiri air, itu tandanya tiba saatnya bersenang-senang tanpa perlu pergi jauh dan beresiko. Kita memancing. Mulai berencana, kapan dan bagaimana agar memancing di pinggir kali ini bisa menyenangkan. Hei... tak perlu desain, gampang saja, dampingi anak-anak bermain, biarkan mereka berekspresi, jangan dibatasi, dan semuanya akan menyenangkan!

Joran dari bilah bambu. Mata kail dengan harga 500 perak per biji. Ambil pacul dan cangkul tanah sekitar rumah untuk ambil cacing untuk umpan. Ada juga dengan laron tangkapan sendiri tadi malam.Meskipun cuma dapat ikan Kathing (seperti lele kecil biasa terdapat di sungai-sungai kecil atau sawah-sawah di daerah sini) tak apa. Yang penting umpan di sambar dan dapat ikan.
Joran dari bilah bambu
Laron
Wadah Cacing

Semua senang. Dan tugas anak-anak, ceritakan kegiatan memancing ini sama mba Lina lewat surat rahasia (cerita dalam bentuk tulisan).

---------------------------------------------------------

Surat Rahasia Nafis.
Memancing Bersama-sama temanSoficita
Hari senin  yang lalu aku dan teman-teman merencanakan memancing. Kalau memancingnya dapat ikan paling banyak mendapat hadiah buku.

Tadi malam aku menangkap laron untuk umpan memancing. Aku tidak punya bambu untuk membuat pancing seperti teman-teman. Aku mengambil pancing dari toko rumahku.

Marsya dan mas Riki kerumahku. Kami berangkat bersama kerumah mba Lina. Sambil menunggu teman-teman mas Riki membuat pancing untuk mba Lina. Delpi juga membuat pancing tapi tidak bisa. Bambunya jadi buat tombak-tombakan.

Pertama memancing di kali Ciwuntu. Tempatnya tidak bagus banyak pohon bambu di pinggir kali. Adit melihat ada ular. Kata mba Lina di pohon bambu biasanya buat sarang ular. Kami pun pindah di belakang rumah pak Mungawam.

Adit mendapat ikan patin mini. Yang lain juga dapat ikan hanya aku dan Delpi yang tidak dapat ikan. Sudah jam 04.05 kami pulang ke rumah mba Lina dan pulang kerumah masing-masing.

Ceritaku, Nafis.

Surat Rahasia Adit.
Memancing dapat Hadiah Buku.
hari ini aku senang sekali. Akhirnya aku dan teman-teman soficita pergi memancing bersama. Aku membawa pancing buatan embah kakung.

Setelah di rumah emba Lina, nafis dan Marsya sudah sampai duluan. Mba Lina kepengin pancing dari bambu terus dibuatin sama mas Riki. delpi lupa membawa pancing dan dia ikut-ikutan membuat pancing tapi gagal. Anak-anak perempuan kerjanya berisik terus.

Kami berangkat ke kali Ciwuntu. disana aku melihat ular. Tempat memancingnya juga sulit karena banyak pohon bambu di pinggir kali. Kemudian kami pindah di kali Ciledug.

Horeeee aku dapat ikan duluan. Ikannya kecil-kecil tapi kami tetap suka. Apalagi aku dapat hadiah buku dari emba Lina. Kapan-kapan aku ingin pergi memancing bersama lagi.

Itulah ceritaku, Adit.

Surat Rahasia Marsya.
Memancing
Pulang sekolah aku pulang terburu-buru karena aku tidak sabar mau memancing. Aku dan mas Riki mencari cacing untuk umpan. Sebetulnya aku sudah menangkap laron tapi mati dan busuk.

Aku dan mas Riki nyamper ke rumah Nafis. Kami semua bersepeda. Mas Riki di suruh membuat pancing oleh mba Lina.

Kami berangkat ke kali Ciwuntu berjalan kaki. Disana tempatnya tidak enak. Akhirnya kami pindah ke kali Ciledug. Kami berlari-lari lewat sawah.

Aku senang sekali. Banyak ikan tetapi ikannya kecil-kecil. Aku mencoba ternyata aku dapat satu. Aku coba lagi dapat satu lagi. Aku dapat dua ikan seperti Adit. Akhirnya aku dan Adit mendapat hadiah buku.

Ceritaku, Marsya.

--------------------------------------------------------- 

Riki sibuk buat pancing, jago dia lho...
Mancing nyemplung kali, kalu ini ya? haha!
Mancingnya Keroyokan ^^
Adit juaranya, dengan pancing buatan embah kakungnya ^^

Sementara baru tiga surat rahasia yang dikirim. Seru kan?

 s o f i c i t a

Kamis, 08 Desember 2011

Karya Kita berdua

sore ini iseng-iseng menggambar di rumah mba Lina. Dan ini karya kami...

Karya Devi Ananda Putri

 ragam gambar Devi :)

 Karya Delpiero Abdul Rozak

 The Owl, Kartun Favoritku... Delpiero

Ini karya kita, mana karya kalian? ^_^


Minggu, 04 Desember 2011

Keunikan Bagus

Namanya Bagus Satrio, menurut saya anak ini paling unik diantara yang lainnya. Kelas 4 SD. Super cuek, dia lebih sibuk dengan dirinya sendiri. Kalau di luar rumah dia mandiri. Tapi bocoran dari mamanya dirumah manja dan kolokan luar biasa. Perlu lebih bersabar untuk "ngemong" anak ini.

Paling rajin. Jam lesnya jam 2 siang, 15 menit sebelum jam dua pasti udah dateng... dengan suara khasnya yang besar "Mba Linaaaaaa". Begitu datang langsung belajar???? Tidaaakkkk. Dia perlu waktu sekitar setengah jam untuk bermain-main. Bongkar pasang Puzzle, main kartu remi, tiduran dilantai atau menggambar. Dan sementara selama musim penghujan dan sawah sedang dibajak, dia datang les lebih awal... sebelum jam 1 dia datang. Alasanannya lagi-lagi menggelikan... Mau cari beluuut!!!

Ini salah satu karyanya:

Gambar Bagus Sebelum Belajar :)
Bagus dengan karyanya :)
Semoga saat besar nanti, kamu jadi anak yang sukses dunia akhirat Nak!!! 
By Lina Sophy

Senin, 17 Oktober 2011

Menikmati Kebersamaan

Mari Habiskan Kolak-nyaaa :D


Ceritanya anak-anak makan bareng nih. Banyak tingkah. Ada saja yang memancing ujung bibir menarik membentuk senyum.

Adit    : "Mba Linaaa, Abi ngambil isi kolakku"
Abi     : "Cuma sedikit, itu Azka yang banyak"
Azka  : "Aku ikut-ikutan Syarif"
Syarif : "hehe... habis laper sih mbaaa" Sambil nyengir.

Kamis, 21 Juli 2011

Jalan-Jalan ke Peternakan Kambing

Nafis
Hari senin tanggal 4 Juli aku bersama teman-teman les dan mba Lina aku jalan-jalan ke peternakan kambing disana aku bertemu kambing dan kancil terus aku melihat pemerasan susu kambing terus aku bertanya-tanya ternyata disana ada 80 ekor kambing terus aku menulis jawaban yang diberi oleh mba Lina terus aku bermain dengan kambing kecil terus kambing kecil itu pup ketanah pup mereka bau sampai aku tidak tahan terus aku pergi ke tempat yang tidak bau terus aku pergi ke teranggulasi terus aku naik dengan lari-lari terus aku kepeleset aku jatuh terus naik lagi sampai di atas aku melihat pemandangan indah terus aku makan siang selesai makan siang terus aku berfoto-foto selesai berfoto ada yang kepeleset dan menangis terus aku turun terus aku kepeleset dan kepengkok aku kesakitan sampai dibawah aku bertemu kambing kecil terus dia lari-lari terus turun lagi terus berfoto-foto terus pulang karena montornya mamanya Naja bahan bakarnya habis jadi ya dituntun terus pulang kerumahnya masing-masing.

Tamat

Ceritaku,
Nafis

NB:  Nafis masih kelas 2 SD, dan ini pengalaman pertama belajar menulis cerita... :)

Selasa, 12 Juli 2011

Kumpulan puisi Devi Ananda Putri


IBU
Kau mengandungku 9 bulan di rahimmu
Dengan susah payahnya kau melahirkanku
Dengan hangatnya kau memelukku
Dengan kasih sayang yang sangat tulus kau mendidikku
Kasihmu, Sayangmu, Cintamu kau berikan kepadaku
Terima kasih ibu atas semua usahamu
Untuk menjagaku setiap waktu

Guru
Kau mandikanku dengan petuahmu
Kau menuntunku saat aku terjatuh
Namamu akan selalu ada dalam hatiku
Jasamu tak akan pernah kulupakan
Walau jasamu tak bisa ku balas
Tetapi kau ikhlas dengan jasa-jasamu
Terima kasih guru untuk semua jasa-jasamu
Yang kau berikan kepadaku

Sahabatku
Kita selalu bersama dalam suka dan duka
Kita juga slalu bersama dalam menghadapi masalah
Walau kita banyak perbedaan tetapi kita slalu bersama
Walau beribu-ribu rintangan
Tak akan jadi beban berat kita
Karena kita slalu bersama selamanya

Sekolah
Ku slalu bertemu denganmu
Di sana ku lihat banyak anak-anak
Ada buku sebagai sumber ilmu
Ada guru sebagai pemberi ilmu
Di sana aku dapat belajar
Berbagai macam ilmu
Tetapi hanya 5 sampai 6 jam aku bersamamu
Tetapi hari esok kita kan bertemu lagi
 
Rumah
Aku bersamamu setiap hari
Kau melindungiku dari basahnya hujan
Kau juga melindungiku dari panasnya terik mentari
Walau kau kecil, sederhana
Tetapi kau selalu melindungi
Orang atau pun benda yang ada di dalammu
Oh rumah aku tak tau
Apa yang terjadi jika taka da rumah

Belajar
Ku belajar setiap waktu
Ku belajar agar aku pintar
Ku belajar untuk mencapai cita-citaku
Kawan marilah kita belajar untuk kepintaran kita
Karena masa depan menanti kita semua