soficita

Tampilkan postingan dengan label obrolan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obrolan kecil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Anak Indonesia

Kecil Mungil


Anak kecil
mungil
berkulit sedikit gelap
berambut ikal
tetap tampak manis
polosnya wajah anak-anak
gigi susunya habis dimakan gula-gula
dek lia namanya
anak pelosok jogja

sempat aku tanya
tentang tokoh-tokoh kesukaanya
si biri-biri shaun, kadal gurun,
beruang besar dan bodoh,
sikembar dari negeri tetangga,
itulah favoritnya

aku kembali bertanya
dek lia nggak suka unyil?
“Unyil itu siapa?” berbalik tanya

kalau mau bobo bapak sama ibu suka mendongeng?
“ndak pernah, kan nonton tivi sebelom bobo”

dek Lia hanya bagian dari anak-anak negeri kita.


Kota Kelahiran | Mei 2012

Sabtu, 13 Oktober 2012

Membangun Kedekatan dengan Anak-Anak

Beginilah kami ^^

Moment-moment seperti gambar diatas adalah hal yang paling aku suka. Di "saat-saat" itulah aku berusaha membaca siapa dan bagaimana anak-anak itu. Dari hal sepele seperti bangun tidur jam berapa, uang saku sekolah berapa, hobinya, cita-citanya, jajanan yang paling disuka apa sampai soal bagaimana belajarnya di rumah, sejauh mana orang tua berperan dalam membantu anak-anak itu belajar, dsb.

Seringkali orang tua mengadu bahwa anak-anak mereka sangat sulit diatur. Kalau urat-urat muka belum semua keluar dan omelan panjang lebar belum keluar si anak masih aja santai bahkan kadang melawan.  Kurasa ini adalah perbedaan pemahaman. Orang tua belum dewasa, kita tidak bisa memaksa anak-anak berfikir seperti kita.

"Mamaku itu tiap hari marah-marah, mau makan aku dimarahin, mau main aku dimarahin, mau sholat aku juga dimarahin" keluh seorang anak suatu ketika.


"Gimana aku nggak gemes mbak, anakku itu susah sekali diatur. Kalau nggak diomelin dulu dia bakal lupa waktu, lupa tugas-tugasnya. Maunya main terus." Begitu keluh Ibunya.

Dalam sesi ngobrol bersama yang biasa kami (aku dan anak-anak) lakukan, pernah mereka bercerita. Begini, anak-anak itu merindukan kasih sayang ibu saat masih kecil. Dulu sewaktu kecil aku sering sekali di cium sekarang enggak lagi. Dulu aku dipanggil sayang sekarang enggak lagi. Dulu sering diajak jalan-jalan sekarang enggak lagi. Dan masih banyak hal yang dulu dilakukan sekarang enggak lagi. Sekarang hanya marah dan omelan tiap hari.


Wajarkah? Entahlah. Aku belum punya pengalaman langsung soal anak kandung. Tapi mungkin bisa aku simpulkan sedikit (boleh setuju boleh juga tidak setuju) bahwa kebanyakan yang terjadi orang tua tidak sadar dengan hal ini. Semakin anak-anak tumbuh besar mereka semakin merasa "jauh" dengan keluarganya. Banyak kasus yang terjadi begitu. Kelakuan anak-anak dan remaja yang lepas kontrol dan sebagainya bisa jadi berawal dari sini.

So, "dekat" dengan anak itu hukumnya wajib. Bangun sejak mereka masih kecil. Dan yang harus disadari betul adalah cara berfikir anak-anak tidak sama dengan kita. Dan kita tak bisa seenaknya memaksa mereka berfikir seperti sudut pandang kita. Perbanyak waktu bersama, dengan mendongeng itu lebih bagus lagi.


LS
Cilacap | 13 Oktober 2012

Sabtu, 25 Agustus 2012

Alam Kita

suatu kali aku pernah bercerita pada anak-anak
tentang harmonisasi alam yang sangat indah
hubungan yang sangat mesra dan tergantung satu sama lain
bahwasanya kita saling bergantung dengan makhluk lainnya

kita butuh makan, alam menyediakannya
kita butuh minum, alam menyediakannya
kita butuh angin, alam menyediakannya
kita butuh bangun rumah, alam menyediakannya
kita butuh udara, alam menyediakannya
kita butuh apapun juga, alam menyediakannya

mereka bertanya,
lalu makhluk lain di alam ini apakah memerlukan kita?
ya, tentu saja. mereka juga harus kita hormati,
penuhi keperluannya

coba kalian bayangkan,
di suatu padang rumput yang luas
ada juga pohon-pohon rindang
langit biru cerah dengan hiasan awan seperti bulu-bulu domba
ada beberapa kambing ternak yang sedang asyik merumput
lalu sang gembala duduk di bawah pohon menikmati nyanyian suara burung berkicau
angin pun tak segan menyapa
sinar mentari juga tak terasa teriknya
disanalah, ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan
rumput membutuhkan kambing-kambing untuk memberikan karbondioksida sisa pernafasan
agar mereka dapat berfotosintesis menghasilkan rumput sehat dan oksigen
kambing membutuhkan rumput sebagai makanan
dan kambing juga mengambil oksigen untuk bernafas
begitupun penggembala, burung, kupu-kupu, lebah dan capung dengan tumbuhan saling membutuhkan
indah sekali alam ini, bukankah ini hadiah dari Tuhan yang tak terkira…

wajah-wajah kecil polos yang tadi berseri berubah murung,
orang-orang dewasa telah merebutnya
monster-monster bermunculan berbentuk kotak bertingkat-tingkat dan bercerobong asap
pohon-pohon di tumbangkan tanpa memikirkan akibatnya
hewan-hewan di buru, diperjualbelikan sampai habis di habitatnya
mineral-mineral dari dalam tanah digaruk dan dan disedot sampai habis

lalu kini,
Matahari marah membakar kita semua dengan teriknya
pohon-pohon tak lagi mampu memberikan oksigen yang berlimpah untuk kita
angin pun jarang menyapa, kadang datang dengan tiba-tiba dengan marah yang membuncah
menerjang dan merusak apa saja yang dilewatinya
air bersih pun tak tahu mesti dicari kemana
sawah-sawah kering, sungai-sungai kering, sumurpun ikut mengering
seperti angin, kadang air pun datang seperti bah menghancurkan apa saja yang dilewatinya

saat bencana datang
orang dewasa selalu bilang
bahwa alam telah menua

Apakah orang dewasa lupa,
alam tidak menua kalau kita mampu menjaganya
bukankah orang dewasa juga yang mengajarkan
air, tanah, tumbuhan, dan beberapa lainnya termasuk sumber-sumber yang dapat diperbaharui

inikah yang orang dewasa mampu wariskan pada kita?

akupun sedikit bingung menjawabnya
tenanglah, asal kita janji untuk mau dan mampu dan terus berusaha
kita akan mampu mengembalikan alam seperti dongeng kita


Lina Sophy
14 April 2012

Bermain itu Belajar

Ade Fira & Ade Hilda


(Fira 5 tahun, Hilda -4 Tahun)

Ade Fira bilang kalau besar nanti pengen jadi ibu guru. Hari ini mereka bermain kartu alfabet. Fira jadi gurunya.

F : Ini apa de?
H : Geleng-geleng.
F : Ikutin ya, ini A, untuk Apel
H : A, untuk Apel


Jadilah apa yang kalian mau. ^^

#soficita
Cilacap, Agustus 2012

Senin, 19 Maret 2012

Korupsi di Mata Anak-Anak

Biasanya, sebelum mulai belajar anak-anak #soficita akan bermain sesuka hati. Lalu, ketika semua sudah tenang dan bisa duduk manis, kita akan mulai berdiskusi. Dari cerita pengalaman berebut belut di sawah. Dengan sistem saling songkol (baca = sebelum belut masuk wadah masing-masing biarpun sudah di tangan masih bisa direbut), baju penuh lumpur. Oh, bukan hanya baju tapi dari ujung rambut. Menyenangkan. Atau pengalaman waktu sunat. Pengalaman malasnya mandi pagi, dan sebagainya.

Kemarin sore Nafis, Adit, Manda, Bagus, Devi, Marsya, dan Delpi duduk nyaman, ada yang bergelayutan di pundak. Tiduran bebas dilantai. Sibuk kipas-kipas karena udara yang panas. Kita memulai diskusi. Ada yang membuka dengan pertanyaan tentang apa itu korupsi? Tak perlu ku jawab. Dilemparkan saja pertanyaan itu pada mereka.
Jawaban beragam.
“Berarti dosa banget ya mbak koruptor itu?”
“Koruptor itu orang yang serakah”
“Jahat”
“Masa nggak di tangkap sama pak polisi”
“Kan kalau di TV yang korupsi para pejabat tinggi”
“Masa pak Presiden nggak berani?”
“Yang di korupsi itu uang untuk rakyat?”
“Untuk orang miskin? ya nanti tambah susah? kalau nggak bisa makan gimana?”
Pembahasan melebar sampai dengan hutan gundul karena penebangan liar.
“Yang nebang katanya orang-orang yang udah kaya ya mbak?”
“Ihh… pada jahat banget ya orang Indonesia”
“Mbak, bisa nggak nanti lama-lama Indonesia di jual juga sama koruptor?”
“Hah… kalau Indonesia di jual, nanti aku tinggal dimana?”
“Berarti kalau Indonesia di jual rakyatnya jadi pembantu semua ya mbak?”
Oke! Stop… Kalau sudah begini, mencoba dengan sungguh hati, menjelaskan apa dan bagaimana koruptor. Dan bagaimana semestinya menjadi anak-anak yang baik. Hipnotis mereka dengan cerita tokoh-tokoh yang hebat. Keyakinanku, bahwa anak-anak akan belajar dari tingkah laku orang dewasa. Mari, selalu belajar menjadi contoh anak-anak untuk kemajuan kita bersama.


Cilacap, Des 2011
Sophy